Temuan 4.191 Kasus TBC di Surabaya, Lilik Hendarwati Ajak Warga Tidak Panik, Perkuat Deteksi Dini dan Edukasi

Maraknya kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Hingga lima bulan pertama tahun 2026, tercatat sebanyak 4.191 kasus TBC ditemukan di Kota Pahlawan dari estimasi 11.412 kasus yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun ini.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati, meminta seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Menurut Lilik, meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu menunjukkan kondisi yang memburuk. Justru, hal itu bisa menjadi indikator bahwa upaya skrining dan penemuan kasus secara dini semakin aktif dilakukan oleh tenaga kesehatan.

” Meningkatnya temuan kasus TBC di Surabaya harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Namun masyarakat tidak perlu panik. Bertambahnya angka kasus juga bisa menunjukkan bahwa skrining dan penemuan dini semakin aktif dilakukan, sehingga penderita dapat segera diobati dan risiko penularan bisa ditekan,” ujar Lilik.

Ketua Fraksi PKS Jatim itu menilai penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan semata. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi berbagai elemen masyarakat untuk mempercepat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut.

“Saya mendorong adanya sinergi dan kolaborasi agar penanganan TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT/RW, sekolah, tempat ibadah hingga dunia usaha,” katanya.

Lilik juga menyoroti masih adanya stigma negatif terhadap penderita TBC yang kerap membuat pasien enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan secara terbuka. Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan literasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

“Literasi dan edukasi tentang gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dini, serta kepatuhan minum obat harus terus diperkuat agar tidak ada lagi stigma yang membuat pasien takut berobat. Di masyarakat kita masih banyak stigma buruk terhadap penyandang TBC, padahal penyakit ini bisa dicegah dan disembuhkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila terdeteksi lebih awal dan pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas. Karena itu, dukungan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk membantu proses kesembuhan pasien.

“TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan apabila dideteksi lebih awal dan diobati secara teratur. Jangan mengucilkan penderita, tetapi rangkul dan dukung mereka agar sembuh. Dengan gotong royong dan meningkatnya kesadaran masyarakat, saya optimistis Surabaya dapat menekan penyebaran TBC dan mewujudkan kota yang lebih sehat bagi seluruh warganya,” tuturnya.

Selain itu, Lilik juga menyampaikan sejumlah harapan dan rekomendasi kepada Pemerintah Kota Surabaya agar pengendalian TBC dapat berjalan lebih efektif. Di antaranya memperluas skrining dan pelacakan kontak di wilayah padat penduduk, memastikan ketersediaan obat serta layanan pengobatan yang mudah diakses masyarakat, memberikan pendampingan dan bantuan gizi bagi pasien dari keluarga kurang mampu, serta memperkuat kolaborasi antara puskesmas, rumah sakit, dan kader kesehatan.

“Yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh pasien dapat menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Sebab keberhasilan pengobatan menjadi salah satu kunci utama untuk memutus rantai penularan TBC di masyarakat,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top