Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur berpotensi memunculkan dampak serius terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Khusnul Khuluk, meminta pemerintah dan PLN segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan tersebut sebelum kerugian yang dialami masyarakat semakin meluas.
Menurut Khusnul, pemadaman listrik bukan sekadar persoalan terganggunya aktivitas rumah tangga, tetapi telah menyentuh sektor-sektor produktif yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Pemadaman listrik secara bergiliran ini memang sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Dampaknya dirasakan langsung oleh peternak, pelaku UMKM, dan berbagai usaha kecil yang bergantung pada pasokan listrik,” ujar Khusnul.
Legislator PKS dari Daerah Pemilihan Lumajang-Jember itu mencontohkan sektor peternakan ayam modern yang saat ini banyak menggunakan sistem otomatis berbasis listrik untuk mengatur suhu kandang, ventilasi udara, hingga kebutuhan pakan ternak.
Menurutnya, gangguan pasokan listrik dapat menimbulkan risiko besar bagi peternak, terlebih jika terjadi kendala pada genset cadangan yang digunakan saat listrik padam.
“Di peternakan ayam misalnya, banyak yang menggunakan sistem khusus berbasis listrik. Ketika listrik padam dan terjadi gangguan pada genset, maka ayam-ayam bisa banyak yang mati. Ini tentu sangat meresahkan peternak karena kerugiannya tidak sedikit,” katanya.
Selain sektor peternakan, Khusnul juga menyoroti dampak yang dirasakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Banyak usaha rakyat yang saat ini mengandalkan listrik sebagai penunjang utama operasional mereka.
Ia mencontohkan usaha kedai kopi yang sebagian besar peralatannya menggunakan tenaga listrik. Ketika pasokan listrik terganggu, aktivitas usaha pun praktis terhenti.
“Para pelaku UMKM juga akan lumpuh total jika pemadaman berlangsung lama. Penjual kopi misalnya, sebagian besar alat produksinya menggunakan listrik. Ketika listrik mati, mereka kebingungan dan tidak bisa melayani pelanggan secara maksimal,” ujarnya.
Khusnul menilai masih banyak sektor usaha lain yang menghadapi kondisi serupa, mulai dari industri makanan dan minuman, percetakan, pengelasan, hingga usaha penyimpanan produk yang membutuhkan pasokan listrik stabil.
Karena itu, ia mendesak pemerintah segera menuntaskan akar persoalan yang menyebabkan terjadinya pemadaman bergilir.
Menurutnya, apa pun penyebabnya, baik karena kendala pasokan batu bara, gangguan sistem kelistrikan, maupun faktor cuaca yang memengaruhi pembangkit listrik, harus segera dicari jalan keluarnya.
“Yang terpenting pemerintah harus segera menyelesaikan masalah ini. Apakah karena pasokan batu bara berkurang, gangguan sistem, atau faktor cuaca yang memengaruhi pembangkit listrik, semuanya harus segera ditangani,” tegasnya.
Khusnul juga meminta agar kondisi yang terjadi di daerah disampaikan secara utuh kepada pemerintah pusat, termasuk Presiden, sehingga dampak riil yang dirasakan masyarakat dapat menjadi perhatian bersama.
“Ini harus terus disuarakan sampai ke Pak Presiden. Biar beliau tahu bahwa yang terjadi di bawah bukan hanya sekadar lampu padam, tetapi berpengaruh langsung terhadap perekonomian masyarakat bawah,” katanya.
Khusnul berharap pemerintah dapat bergerak cepat mengatasi persoalan tersebut agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu lebih lama. Menurutnya, stabilitas pasokan listrik merupakan salah satu syarat utama bagi keberlangsungan usaha rakyat dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Jangan sampai masyarakat kecil yang paling merasakan dampaknya. Pemerintah harus hadir memastikan pasokan listrik kembali normal agar roda perekonomian rakyat tetap berjalan,” pungkasnya.{}



