Melihat persoalan di sekitar, tetapi memilih diam, hanya akan membuat masalah terus berulang. Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil Surabaya, Lilik Hendarwati, S.Ak., mengajak warga mengubah kepedulian menjadi aksi nyata melalui Gerakan 5M Peduli Suroboyo.
Gerakan yang digagas Lilik tersebut mengajak masyarakat untuk menjalankan lima langkah sederhana, yakni Melihat, Memahami, Menyampaikan, Membantu, dan Menggerakkan.
Menurut Lilik, lima langkah tersebut dapat menjadi kebiasaan sederhana yang mendorong masyarakat tidak hanya menjadi penonton ketika melihat persoalan sosial di lingkungan mereka.
“Jangan hanya melihat ketika ada masalah. Kita harus belajar memahami, berani menyampaikan, mau membantu, dan kemudian mengajak orang lain untuk bergerak,” ujar Lilik.
Ia mengatakan, persoalan sosial di Surabaya sangat beragam. Mulai dari anak dan remaja yang membutuhkan perhatian, lingkungan yang kurang terjaga, kelompok masyarakat rentan, konflik sosial, hingga persoalan ekonomi keluarga.
Berbagai persoalan tersebut, menurutnya, tidak mungkin sepenuhnya diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah.
“Pemerintah punya kewenangan dan anggaran. DPRD punya fungsi pengawasan dan penganggaran. Tetapi masyarakat punya sesuatu yang sangat besar, yaitu kepedulian,” tegas Ketua Fraksi PKS di DPRD Jatim itu.
Lilik mendorong masyarakat Surabaya mengubah pola pikir dari sekadar menunggu pemerintah bertindak menjadi bagian dari solusi.
Menurutnya, masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan besar melalui gotong royong. Karena itu, kepedulian sosial perlu dibangun dari lingkungan paling dekat, mulai dari keluarga, tetangga, RT/RW, kampung, komunitas hingga generasi muda.
“Kalau kita melihat ada anak yang mulai bermasalah, jangan buru-buru menghakimi. Kalau melihat lingkungan kotor, jangan hanya mengeluh. Kalau melihat tetangga kesulitan, jangan pura-pura tidak tahu. Kita mulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan,” katanya.
Ia meyakini, kepedulian yang dilakukan secara bersama-sama dan konsisten dapat memberikan dampak jauh lebih besar bagi lingkungan.
Sebagai wakil rakyat, Lilik menegaskan dirinya tetap memiliki tanggung jawab untuk menyerap aspirasi masyarakat, mengawal kebijakan, mendorong anggaran yang berpihak kepada kebutuhan warga, sekaligus memastikan persoalan di masyarakat mendapatkan perhatian pemerintah.
Namun, ia menilai fungsi DPRD akan semakin kuat apabila masyarakat aktif menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temukan.
“Saya ingin DPRD bukan hanya hadir ketika ada persoalan besar. Saya ingin kita hadir sejak masyarakat mulai melihat persoalan itu. Karena masyarakat adalah mata dan telinga pembangunan,” ungkapnya.
Menurut Lilik, laporan dan aspirasi masyarakat yang disampaikan secara tepat akan menjadi bahan penting bagi pemerintah maupun DPRD dalam merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Lilik berharap Gerakan 5M Peduli Suroboyo tidak berhenti sebagai slogan atau kegiatan sosialisasi semata. Ia ingin gerakan tersebut berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Bentuknya bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti peduli terhadap anak dan lansia, menjaga kebersihan lingkungan, memperkuat keamanan kampung, mendampingi generasi muda, membantu warga rentan, hingga membangun budaya komunikasi dan gotong royong.
“Saya ingin masyarakat mengingat satu pesan sederhana: melihat jangan diam, memahami jangan menghakimi, menyampaikan jangan takut, membantu jangan menunggu mampu besar, dan menggerakkan jangan menunggu orang lain,” tutur Lilik.
Ia mengajak seluruh warga menjadikan kepedulian sebagai karakter masyarakat Surabaya.
“Surabaya tidak hanya membutuhkan kota yang maju. Surabaya membutuhkan masyarakat yang peduli. Karena kota ini bukan hanya milik pemerintah. Surabaya adalah rumah kita bersama,” pungkasnya.{}



