Aktivitas influenza di Indonesia menunjukkan peningkatan. Berdasarkan pemantauan Kementerian Kesehatan hingga 18 September 2026, sebanyak 86 dari 185 spesimen yang diperiksa pada minggu ke-36 terdeteksi positif influenza atau sekitar 46 persen. Data tersebut terdiri dari 76 kasus Influenza A (H1N1Pdm09), delapan Influenza A (H3N2), dan dua Influenza B/Victoria.
Kasus influenza tersebut terdeteksi di 13 provinsi. Pada pemantauan minggu ke-35, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan tercatat sebagai provinsi dengan proporsi kasus terbanyak, masing-masing 24 persen.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Puguh Wiji Pamungkas, MM, meminta masyarakat tidak panik berlebihan. Namun, peningkatan aktivitas influenza perlu diikuti langkah mitigasi yang lebih kuat dari pemerintah, khususnya di Jawa Timur.
“Menurut saya masyarakat di Jawa Timur tidak perlu panik berlebihan. Pemerintah kita secara regulasi dan mitigasi sudah sangat berpengalaman, apalagi beberapa tahun yang lalu sudah menghadapi pandemi COVID-19 yang sangat luar biasa penyebarannya,” ujar Puguh.
Meski demikian, Puguh menilai pengalaman tersebut harus menjadi modal untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi peningkatan kasus influenza. Ia mendorong Pemprov Jatim melalui Dinas Kesehatan untuk menggalakkan program promosi dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
Menurutnya, edukasi perlu diarahkan pada penguatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta kesadaran menjaga daya tahan tubuh. Dua hal tersebut dinilai penting sebagai bagian dari upaya masyarakat mengurangi risiko penyebaran penyakit influenza.
“Promosi kesehatan kepada masyarakat dan penyuluhan kesehatan perlu semakin digalakkan. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya memiliki daya tahan tubuh yang baik serta perilaku hidup bersih dan sehat,” jelasnya.
Puguh juga meminta edukasi dilakukan secara lebih intensif di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, terutama kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Kediri, Madiun dan Jember. Menurutnya, karakteristik wilayah yang padat membuat edukasi dan pencegahan menjadi semakin penting.
Selain promosi kesehatan, ia mendorong seluruh instrumen layanan kesehatan di Jawa Timur ikut dilibatkan. Puskesmas, rumah sakit, klinik, dokter praktik hingga kader kesehatan di desa perlu mendapatkan informasi dan panduan yang jelas mengenai langkah menghadapi peningkatan kasus influenza.
“Protokol kesehatan yang dirilis resmi oleh pemerintah harus disosialisasikan. Masyarakat perlu tahu bagaimana mengenali gejala awal, ketika mengalami flu harus ke mana, kemudian apa yang harus dilakukan ketika harus mendapatkan pemeriksaan di puskesmas atau rumah sakit,” katanya.
Puguh juga meminta pemerintah mulai menyiagakan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, baik milik pemerintah maupun swasta, sebagai bagian dari sistem kewaspadaan. Menurutnya, langkah tersebut penting agar fasilitas kesehatan memiliki kesiapan apabila terjadi lonjakan kasus.
Koordinasi dan pendataan juga perlu diperkuat. Jika terjadi peningkatan kasus di suatu wilayah, pemerintah perlu memiliki mekanisme yang jelas mengenai bagaimana kasus dilaporkan, bagaimana koordinasi antarlayanan kesehatan dilakukan, serta langkah mitigasi yang harus segera diterapkan.
“Rumah sakit, klinik, puskesmas dan dokter praktik semuanya perlu diberikan notifikasi untuk bersiaga ketika terjadi lonjakan kasus influenza. Koordinasinya seperti apa, pendataannya seperti apa, itu harus jelas supaya penyebarannya bisa dimitigasi dan mata rantai penyebarannya tidak meluas,” tutur Puguh.
Ia menegaskan, peningkatan aktivitas influenza tidak perlu disikapi dengan kepanikan, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Kesiapsiagaan pemerintah, edukasi masyarakat dan penguatan layanan kesehatan perlu berjalan bersamaan agar potensi penyebaran dapat dikendalikan.
“Yang paling penting adalah masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan pemerintah memiliki sistem mitigasi yang siap. Dengan begitu, kita bisa menghadapi peningkatan kasus influenza secara terukur tanpa menimbulkan kepanikan,” pungkasnya.{}



