Kenaikan harga daging sapi yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, menjadi perhatian Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Khusnul Khuluk.
Menurutnya, lonjakan harga kali ini bukan sekadar persoalan distribusi, tetapi dipicu oleh berkurangnya populasi sapi sehingga berpotensi berlangsung dalam waktu cukup lama.
Sejumlah pedagang di Pasar Baru Porong mengeluhkan harga daging sapi yang terus merangkak naik dalam dua pekan hingga satu bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat aktivitas jual beli menurun.
Bahkan, sebagian pedagang memilih mengurangi stok karena khawatir dagangan tidak habis terjual. Padahal, setelah Iduladha harga daging biasanya cenderung turun akibat melimpahnya pasokan.
Menanggapi kondisi tersebut, Khusnul mengatakan informasi yang diperolehnya dari para peternak menunjukkan harga sapi bakalan maupun anak sapi (pedet) saat ini sudah tinggi dan jumlahnya terbatas.
“Dari hasil komunikasi dengan beberapa peternak, mereka memprediksi kenaikan harga ini akan bertahan cukup lama. Anak sapi atau pedet sekarang jumlahnya sangat terbatas dan harganya sudah mahal.
Bahkan diperkirakan hingga satu tahun ke depan harga sapi masih tinggi, terlebih saat mendekati Iduladha tahun depan,” ujarnya.
Legislator PKS dari Komisi B DPRD Jatim itu menilai perlu dilakukan kajian lebih mendalam untuk mengetahui penyebab utama berkurangnya populasi sapi, apakah karena tingginya permintaan, menurunnya populasi ternak, atau faktor lainnya.
“Kita memang masih perlu data yang lebih komprehensif. Tetapi fakta di lapangan yang disampaikan para peternak menunjukkan harga sapi di tingkat peternak memang sudah tinggi,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Khusnul meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil langkah strategis guna menjaga populasi ternak sapi agar pasokan tetap terjaga dan harga tidak terus melonjak.
Menurutnya, salah satu langkah yang harus diperkuat adalah penegakan aturan larangan pemotongan sapi betina produktif.
“Perda terkait larangan pemotongan sapi betina produktif harus benar-benar ditegakkan. Jangan sampai sapi yang masih produktif justru dipotong karena itu akan mengurangi populasi ternak dalam jangka panjang,” tegasnya.
Selain itu, ia mengusulkan pemberian insentif kepada peternak yang memelihara sapi betina bunting sebagai upaya mendorong peningkatan populasi sapi di Jawa Timur.
“Pemerintah juga bisa memberikan insentif kepada peternak yang memelihara sapi betina bunting. Dengan begitu masyarakat terdorong mempertahankan indukan sapi untuk berkembang biak. Kalau dibiarkan seperti sekarang, peternak cenderung memilih memelihara sapi jantan untuk penggemukan karena lebih cepat menghasilkan keuntungan,” jelasnya.
Khusnul berharap langkah-langkah tersebut segera dilakukan agar ketersediaan sapi tetap terjaga, harga daging lebih stabil, dan daya beli masyarakat tidak semakin tertekan.
“Jangan sampai persoalan ini terus berlarut karena dampaknya bukan hanya dirasakan pedagang, tetapi juga masyarakat sebagai konsumen dan para peternak sendiri,” pungkasnya.{}



