Ancaman Kekeringan Mengintai Madura, Harisandi Desak Pemprov Segera Siapkan Air Bersih

Ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi melanda Pulau Madura dalam beberapa bulan ke depan mendapat perhatian serius Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Harisandi Savari.

Legislator PKS tersebut mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten di Madura untuk segera menyiapkan langkah antisipasi, terutama terkait ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Menurut Harisandi, potensi kekeringan yang diperkirakan terjadi pada tahun 2026 tidak boleh dianggap sebagai persoalan musiman biasa. Jika tidak diantisipasi sejak awal, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kebutuhan dasar masyarakat dan aktivitas ekonomi warga.

“BPBD Jawa Timur dan pemerintah daerah setempat harus segera memetakan kawasan yang berpotensi mengalami krisis air bersih dan menyiapkan langkah penyediaan air bagi masyarakat,” kata Harisandi.

Ketua Kadin Pamekasan itu menilai wilayah Madura menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terdampak kekeringan karena keterbatasan sumber air dan karakteristik geografis yang berbeda dibandingkan wilayah lain di Jawa Timur.

Ia mengingatkan bahwa ancaman kekeringan panjang dapat berdampak pada ratusan ribu kepala keluarga di Madura apabila pemerintah tidak melakukan mitigasi secara cepat dan terukur.

Selain meminta kesiapan pemerintah, Harisandi juga mengajak masyarakat untuk mulai melakukan penghematan penggunaan air sejak sekarang.

Menurutnya, kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang.

“Kami mengimbau masyarakat Madura untuk menghemat penggunaan air dan mulai bersiap menghadapi potensi kekeringan sejak dini. Jangan menunggu sampai kondisi krisis terjadi,” ujarnya.

Peringatan tersebut sejalan dengan prediksi dari BMKG Trunojoyo Sumenep yang memperkirakan cuaca di Pulau Madura akan semakin kering dalam beberapa bulan mendatang.

Kondisi tersebut dipicu oleh menguatnya angin timuran yang bertiup dari Benua Australia. Fenomena ini menyebabkan pembentukan awan hujan semakin berkurang sehingga intensitas penyinaran matahari pada siang hari menjadi lebih tinggi, sementara suhu udara pada malam hari cenderung lebih dingin karena pelepasan panas berlangsung lebih cepat.

Berdasarkan prediksi BMKG, kondisi kemarau diperkirakan terus berlangsung dan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September 2026.

Harisandi menilai momentum saat ini harus dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat langkah mitigasi, mulai dari pemetaan daerah rawan, penyediaan tandon air, penyiapan armada distribusi air bersih, hingga koordinasi lintas instansi agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika terjadi krisis.

“Jangan sampai saat masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air bersih, pemerintah baru bergerak. Antisipasi harus dilakukan sekarang agar dampaknya bisa diminimalkan,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, BPBD, PDAM, serta seluruh pemangku kepentingan dapat memastikan kebutuhan air bersih masyarakat Madura tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

“Air adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi kekeringan harus menjadi prioritas bersama,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top