Perusakan Mobil Wisatawan di Malang Selatan, Puguh DPRD Jatim: Cederai Citra Pariwisata

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan (Dapil) Malang Raya, Puguh Wiji Pamungkas, menyesalkan insiden perusakan kendaraan berpelat L (Surabaya) yang terjadi di kawasan wisata Malang Selatan.

Ia menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak citra pariwisata daerah.

“Saya sangat menyayangkan tindakan anarkis berupa perusakan kendaraan wisatawan. Ini jelas melampaui batas dan tidak bisa dibenarkan,” tegas Puguh.

Menurutnya, apapun pemicu di lapangan, termasuk dugaan adanya nyanyian yang memancing emosi warga sekitar, tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tindakan kekerasan.

Ia menilai peristiwa tersebut justru menimbulkan dampak luas, terutama terhadap upaya membangun citra positif sektor pariwisata di Kabupaten Malang.

Puguh menjelaskan, selama ini pemerintah daerah tengah berupaya keras mengembangkan potensi wisata Malang Selatan, termasuk dengan pembangunan infrastruktur jalan menuju kawasan pantai selatan yang semakin membaik.

“Malang sedang berbenah, akses menuju jalur lintas selatan terus diperbaiki. Ini menjadi peluang besar untuk menarik wisatawan. Tapi kalau kejadian seperti ini terus terjadi, tentu akan merusak kepercayaan publik,” ujar Sekretaris Fraksi PKS Jatim ini.

Ia menekankan bahwa pengalaman wisatawan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan sektor pariwisata. Insiden kekerasan, menurutnya, bisa menimbulkan efek domino berupa penurunan kunjungan wisata hingga berdampak pada ekonomi masyarakat setempat.

Lebih lanjut, Puguh juga menyoroti adanya potensi rivalitas suporter sepak bola yang terbawa ke luar arena pertandingan. Ia mengingatkan agar konflik tersebut tidak meluas menjadi tindakan anarkis di ruang publik.

“Rivalitas seperti antara Arema FC dan Persebaya Surabaya harus diselesaikan di lapangan, bukan di jalanan apalagi sampai merusak fasilitas atau merugikan masyarakat,” tegasnya.

Puguh pun mengajak seluruh pihak, khususnya masyarakat di kawasan wisata, untuk menjaga kondusivitas dan bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan.

“Ini harus menjadi pelajaran bersama. Kita ingin pariwisata Malang maju, maka keamanan dan kenyamanan wisatawan harus menjadi prioritas,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top