Kawah Wurung dan Ranu Kumbolo Terbakar, Khusnul Khuluk Dorong Gerakan Penghijauan Berkelanjutan

Kebakaran yang melanda sejumlah kawasan wisata alam di Jawa Timur menjadi alarm serius di tengah musim kemarau yang diperkirakan berlangsung panjang. Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Khusnul Khuluk, mendorong pemerintah bersama masyarakat tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga menyiapkan langkah pemulihan dan penghijauan secara berkelanjutan.

Dua kawasan wisata yang baru-baru ini terdampak kebakaran yakni Kawah Wurung di kawasan Ijen, Bondowoso, dan kawasan Ranukumbolo di Lumajang.

Di Kawah Wurung, kebakaran pada Rabu (26/8/2026) menghanguskan sekitar 10 hektare lahan. Api berhasil dipadamkan setelah tim gabungan melakukan penanganan selama sekitar enam jam.

Sementara di kawasan Blok/Petak Pangonan Cilik BBTN Bromo, kebakaran lahan mencapai sekitar 13 hektare dan sempat menyebabkan 170 pendaki berada di kawasan Ranukumbolo sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim gabungan.

Khusnul menilai kejadian tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran kawasan hutan dan destinasi wisata harus diantisipasi secara lebih serius, terutama ketika musim kemarau berlangsung panjang.

“Musim kemarau tahun ini diperkirakan memang cukup panjang. Karena itu, kita tidak boleh hanya fokus ketika terjadi kebakaran. Harus ada langkah pencegahan dan persiapan sejak sekarang,” ujar Khusnul.

Legislator PKS tersebut mendorong pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota memperkuat program penghijauan, khususnya pada kawasan yang mengalami kerusakan atau kehilangan vegetasi akibat kebakaran.

Menurutnya, penghijauan sebaiknya tidak dilakukan sekadar sebagai kegiatan seremonial. Setelah penanaman, harus ada perawatan dan pemantauan agar tanaman benar-benar tumbuh dan mampu memulihkan ekosistem.

“Kalau nanti November atau Desember hujan mulai turun, harus sudah disiapkan pola penghijauan yang benar-benar bisa hidup dan bertahan lama. Jangan hanya tanam bersama, kemudian setelah itu tidak ada tindak lanjut dan perawatan yang intensif,” tegasnya.

Khusnul juga mengingatkan pentingnya penguatan mitigasi di kawasan wisata alam. Pengelola destinasi perlu memiliki peta kawasan rawan kebakaran, jalur evakuasi, titik kumpul, peralatan pemadaman awal, serta sistem komunikasi darurat yang mudah digunakan wisatawan maupun petugas.

Di sisi lain, edukasi kepada wisatawan juga harus diperkuat. Pengunjung perlu memahami bahwa aktivitas sederhana seperti membuang puntung rokok sembarangan, membuat api unggun tanpa pengawasan, atau melakukan aktivitas yang memicu percikan api dapat berakibat fatal di tengah kondisi vegetasi yang kering.

“Wisatawan juga harus menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan. Jangan sampai karena kelalaian kecil kemudian menyebabkan kerusakan lingkungan yang sangat besar,” katanya.

Khusnul menilai kawasan wisata alam Jawa Timur memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi yang sangat besar. Karena itu, menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pengelola wisata, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.

“Pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, pengelola wisata, masyarakat dan para wisatawan harus bergerak bersama. Kita ingin wisata Jawa Timur tetap menarik, tetapi ekosistemnya juga tetap terjaga,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top