Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Khusnul Khuluk mendorong pemerintah daerah meningkatkan pengawasan terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di pasar hewan menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Menurut Khusnul, kewaspadaan terhadap PMK perlu diperkuat karena penyakit yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, dan domba itu masih ditemukan di sejumlah wilayah di Jawa Timur.
“Tentu kita sebagai kaum muslimin perlu waspada terhadap PMK, penyakit mulut dan kaki pada hewan berkaki empat ini, terutama kambing, domba, dan sapi,” ujar Anggota DPRD Jatim dari Fraksi PKS itu.
Ia meminta dinas peternakan dan petugas kesehatan hewan mengoptimalkan pemantauan ke pasar-pasar hewan untuk memastikan kondisi ternak yang dijual dalam keadaan sehat dan layak dijadikan hewan kurban.
“Pemerintah harus sering mengoptimalkan kunjungan ke pasar-pasar hewan untuk memantau sejauh mana PMK ini masih ada di Jawa Timur. Karena sepengetahuan saya masih ada beberapa daerah yang terjangkit PMK,” katanya.
Khusnul bahkan menilai di beberapa wilayah kondisi PMK masih cukup mengkhawatirkan dibanding tahun sebelumnya sehingga diperlukan langkah antisipasi yang serius.
“Kadang bahkan lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Selain pengawasan pemerintah, Khusnul juga mengingatkan masyarakat agar lebih teliti saat membeli hewan kurban. Menurutnya, calon pembeli perlu memahami ciri-ciri hewan yang terindikasi terkena PMK.
Ia menjelaskan tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain mulut hewan yang tampak bengkak, mengeluarkan air liur berlebihan, hingga adanya luka atau pembengkakan pada kaki.
“Kalau mulut hewan kurban sudah agak bengkak, apalagi mengeluarkan air liur seperti sariawan, maka ini perlu dihindari. Begitu juga kalau di kaki ada bengkak atau luka,” jelasnya.
Khusnul menambahkan, petugas kesehatan hewan juga perlu rutin melakukan pemeriksaan di lokasi penyembelihan hewan kurban, baik di rumah pemotongan hewan maupun di masjid dan lingkungan masyarakat.
“Biasanya petugas peternakan dan kesehatan hewan rutin menyambangi daerah-daerah yang banyak pelaksanaan penyembelihan kurbannya untuk memastikan hewan aman dikonsumsi,” ujarnya.
Ia menegaskan apabila ditemukan bagian hewan yang berpotensi membahayakan kesehatan, maka harus segera dipisahkan dan tidak dikonsumsi masyarakat.
“Kalau memang membahayakan, ada beberapa bagian yang harus dibuang. Biasanya jeroannya disarankan tidak dikonsumsi oleh masyarakat,” pungkasnya.{}



