Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan keadilan dan perlindungan bagi para pekerja di tengah derasnya arus transformasi digital. Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menegaskan bahwa perubahan teknologi tidak boleh mengorbankan hak-hak pekerja.
Menurut Lilik, Hari Buruh bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat atas perjuangan panjang kaum pekerja dalam meraih kesejahteraan dan perlindungan yang layak.
“Di tahun 2026 ini, kita dihadapkan pada tantangan baru berupa percepatan transformasi digital yang membawa peluang sekaligus risiko, terutama bagi pekerja sektor informal dan masyarakat kecil,” ujar Anggota Komisi C DPRD Jatim ini.
Ia menekankan pentingnya keadilan dalam transisi digital, agar seluruh pekerja, baik di sektor formal, informal, maupun ekonomi platform, tetap mendapatkan hak-hak dasar mereka, seperti upah layak, jaminan sosial, perlindungan kerja, serta kepastian hukum.
“Transformasi digital tidak boleh meninggalkan siapa pun. Keadilan harus memastikan semua pekerja tetap terlindungi,” tegasnya.
Lilik menyebut negara memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan regulasi yang adaptif dan berpihak pada pekerja, termasuk bagi mereka yang terlibat dalam ekonomi digital dan gig economy.
Selain itu, ia juga mendorong penguatan sistem perlindungan sosial agar pekerja, khususnya di sektor informal, tidak semakin rentan akibat perubahan pola kerja.
“Pekerja kecil harus dilindungi. Jangan sampai mereka justru menjadi korban dari perubahan sistem kerja yang semakin digital,” katanya.
Tak hanya itu, Lilik juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas dan literasi digital bagi masyarakat, sehingga pekerja tidak hanya menjadi objek, tetapi juga mampu berperan sebagai pelaku utama dalam ekonomi digital.
Ia menegaskan bahwa kesejahteraan pekerja harus tetap menjadi pusat dari setiap kebijakan pembangunan.
“Tidak boleh ada pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan martabat dan hak pekerja, terutama mereka yang berada di lapisan paling bawah,” ujarnya.
Lilik juga mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat, untuk bersinergi menciptakan ekosistem kerja yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
“Hari Buruh adalah pengingat bahwa kemajuan bangsa ditopang oleh keringat para pekerja. Sudah saatnya keadilan benar-benar dirasakan oleh seluruh pekerja tanpa batas,” pungkasnya.{}



