Rencana Kementerian Agama (Kemenag) memasukkan materi edukasi pencegahan penyebaran budaya LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer) ke dalam kurikulum pendidikan mulai kelas IV SD mendapat dukungan dari Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas.
Menurut Puguh, langkah tersebut merupakan upaya preventif yang penting untuk memberikan pemahaman kepada anak sejak dini mengenai nilai-nilai agama dan norma yang berlaku di masyarakat.
“Saya pikir rencana Kementerian Agama ini bagus. Salah satu solusi yang mendasar dalam mencegah penyimpangan seksual adalah memberikan pemahaman agama yang baik sejak dini. Pemahaman agama menjadi fondasi penting untuk membangun karakter anak,” ujar Puguh.
Legislator PKS dari Daerah Pemilihan Malang Raya itu menilai materi yang diberikan tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran (awareness) mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai moral dan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, Puguh mengingatkan agar penyusunan materi dilakukan secara matang. Menurutnya, cara penyampaian harus disesuaikan dengan usia peserta didik sehingga tujuan edukasi benar-benar tercapai.
“Materinya harus disusun secara utuh, lengkap, dan disampaikan dengan pendekatan yang tepat. Guru-guru yang mengajarkan juga harus memiliki pemahaman dan perspektif yang sama, sehingga pesan yang diterima siswa tidak menimbulkan salah tafsir,” katanya.
Ia mengingatkan agar proses pembelajaran tidak justru memunculkan rasa penasaran yang berlebihan, melainkan benar-benar menjadi media edukasi yang membangun pemahaman dan ketahanan karakter peserta didik.
Selain pembelajaran di sekolah, Puguh menilai keterlibatan orang tua menjadi faktor yang tidak kalah penting. Menurutnya, keluarga memiliki porsi terbesar dalam membentuk karakter anak dibandingkan lingkungan sekolah.
“Pembelajaran di kelas sangat baik sebagai langkah preventif, tetapi juga perlu ada penyuluhan atau edukasi kepada para orang tua. Waktu anak bersama keluarga jauh lebih banyak dibandingkan di sekolah, sehingga peran orang tua menjadi sangat menentukan,” tegasnya.
Puguh berharap setiap sekolah nantinya tidak hanya memberikan materi kepada siswa, tetapi juga mengadakan kegiatan edukasi bagi wali murid agar terdapat kesamaan pemahaman antara pendidikan di sekolah dan pola pengasuhan di rumah.
Ia juga mengingatkan bahwa Jawa Timur menghadapi tantangan yang tidak ringan terkait persoalan tersebut. Karena itu, menurutnya, langkah-langkah pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Fenomena ini harus menjadi perhatian bersama. Generasi muda adalah aset bangsa yang harus kita jaga. Karena itu, pendidikan karakter, penguatan nilai-nilai agama, serta keterlibatan keluarga harus berjalan beriringan agar mampu melindungi anak-anak dari berbagai pengaruh yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat,” pungkasnya.{}



