Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hantavirus yang mulai menjadi perhatian dunia kesehatan global.
Puguh menilai, meskipun kasus hantavirus di Indonesia masih relatif terbatas, langkah mitigasi harus mulai diperkuat agar penyebarannya dapat dicegah sejak dini, terutama di Jawa Timur yang menjadi salah satu pintu masuk mobilitas masyarakat internasional.
“Terakit hantavirus yang sekarang sudah terjadi outbreak di beberapa negara seperti Spanyol dan sebagainya, tentu ini harus menjadi kewaspadaan bagi Indonesia, terutama Jawa Timur yang juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat global,” ujar legislator PKS itu.
Menurutnya, hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui hewan pengerat seperti tikus.
Ia menjelaskan penularan virus tersebut dapat terjadi melalui berbagai media, mulai dari urin, kotoran, hingga air liur tikus yang telah terinfeksi.
“Penyebarannya lewat hewan pengerat atau tikus ke manusia, melalui kotoran, urin, bahkan air liur tikus yang terinfeksi. Karena itu ancaman hantavirus ini perlu segera dilakukan antisipasi,” katanya.
Sekretaris Fraksi PKS itu mengingatkan Indonesia pernah mengalami outbreak penyakit zoonosis lain seperti flu burung yang menimbulkan dampak sosial dan ekonomi cukup besar. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak menyepelekan potensi ancaman hantavirus.
Puguh mendorong adanya sinergi lintas sektor antara Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, pemerintah daerah, hingga instansi terkait lainnya untuk memperkuat sistem mitigasi dan pencegahan.
“Nah, ini harus ada kolaborasi dan sinergi lintas sektoral supaya kemungkinan ancaman merebaknya hantavirus di Jawa Timur benar-benar bisa dicegah. Paling tidak langkah-langkah mitigasi itu sudah mulai dipersiapkan,” tegasnya.
Meski demikian, Puguh meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik dalam menyikapi isu hantavirus.
“Mitigasi dan kewaspadaan perlu ditingkatkan, tetapi tidak perlu menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, selama periode 2024 hingga 2026 tercatat terdapat 23 kasus hantavirus di Indonesia yang tersebar di sembilan provinsi, termasuk Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.
Kementerian Kesehatan juga menyebut kasus hantavirus di Indonesia mayoritas disebabkan strain Seoul Virus dengan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penularannya umumnya berasal dari kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi.
Pemerintah pusat saat ini disebut telah meningkatkan langkah surveilans dan pengawasan untuk mengantisipasi potensi penyebaran virus lebih luas di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur.{}



