Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Muhammad Khusnul Khuluk, menilai trauma wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih membekas kuat di kalangan peternak kambing dan domba di Jawa Timur.
Kondisi ini membuat banyak peternak belum sepenuhnya pulih dan membutuhkan pendampingan serius dari pemerintah agar sektor peternakan rakyat kembali bangkit.
Khusnul mengungkapkan, wabah PMK yang melanda pada 2022 lalu menjadi pukulan telak bagi peternak, khususnya pemelihara hewan berkaki empat. Saat itu, angka kematian ternak tinggi, harga jual anjlok, dan ketakutan masyarakat terhadap penularan penyakit membuat aktivitas peternakan nyaris terhenti.
“PMK itu dampaknya luar biasa. Banyak ternak mati, harga jatuh, dan peternak benar-benar terpukul. Bahkan saya sendiri merasakannya, membeli kambing jauh hari sebelum Iduladha, tapi saat hari H tidak laku karena orang takut,” ujar Khusnul.
Menurutnya, meski saat ini situasi sudah relatif membaik, sejumlah penyakit ternak lain masih kerap muncul dan menambah kekhawatiran peternak. Penyakit yang dikenal masyarakat sebagai lato-lato, misalnya, menyebabkan ternak sulit gemuk meski sudah diberi pakan dan vitamin, sehingga berujung pada kerugian.
“Trauma itu masih ada. Begitu ada isu penyakit, peternak langsung waswas. Ini yang membuat sebagian masyarakat ragu untuk kembali beternak secara optimal,” jelas legislator PKS tersebut.
Khusnul menegaskan, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ia mendorong pemerintah daerah untuk hadir lebih serius melalui pendampingan berkelanjutan, terutama dalam aspek kesehatan hewan, penyuluhan, dan manajemen peternakan rakyat.
“Peternak kita ini mayoritas masih skala rumahan. Mereka butuh kehadiran penyuluh yang rutin turun ke lapangan, memberi edukasi soal pencegahan penyakit, pakan yang baik, hingga cara beternak yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.
Selain pendampingan, Khusnul juga menyoroti pentingnya kualitas bantuan ternak dari pemerintah. Ia menilai, kegagalan sejumlah program bantuan selama ini disebabkan bibit ternak yang tidak unggul dan tidak sesuai dengan kondisi lokal.
“Kalau bibitnya tidak bagus, dikasih pakan apa pun tidak akan optimal. Ini harus dibenahi. Jawa Timur punya kambing Senduro dan domba Sapudi yang unggul, seharusnya itu yang dikembangkan,” katanya.
Dengan pendampingan yang serius dan kebijakan yang tepat sasaran, Khusnul optimistis sektor peternakan kambing dan domba dapat kembali menjadi penopang ekonomi masyarakat desa sekaligus berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan Jawa Timur.
“Peternakan ini prospeknya masih sangat baik. Tapi kuncinya ada pada pendampingan, bukan sekadar bantuan. Kalau ini berjalan, kesejahteraan peternak pasti meningkat,” pungkasnya.{}



