Momentum bersejarah peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) menjadi refleksi sekaligus titik tolak kebangkitan bangsa. Anggota DPRD Jatim dari Fraksi PKS, Puguh Wiji Pamungkas, menegaskan NU telah membuktikan diri sebagai pilar persatuan nasional, penjaga moderasi beragama, dan benteng moral bangsa selama satu abad perjalanan Indonesia.
Menurut Puguh, NU konsisten merawat tradisi Islam rahmatan lil ‘alamin yang menyejukkan, inklusif, dan selaras dengan nilai kebangsaan. Peran tersebut dinilainya sangat strategis dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman Indonesia.
“NU bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi kekuatan sosial dan kultural yang mampu menjaga keseimbangan antara agama, budaya, dan negara,” ujar Puguh dalam keterangannya.
Ia menegaskan, Gemantara Indonesia berkomitmen untuk berdiri bersama NU dalam memperjuangkan nilai keadilan sosial, demokrasi, serta kesejahteraan rakyat.
Menurutnya, peringatan satu abad NU tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah, melainkan harus menjadi momentum kebangkitan umat dan bangsa dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Pria kelahiran Malang tahun 1984 itu juga memberikan perhatian khusus pada peran generasi muda NU. Ia mendorong kader muda untuk tampil sebagai motor inovasi dan kepemimpinan, agar nilai-nilai perjuangan para ulama pendiri NU tetap relevan di era modern.
“Generasi muda NU harus berani mengambil peran strategis, menghadirkan inovasi, dan menjadi pemimpin masa depan tanpa kehilangan akar tradisi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Puguh menekankan pentingnya menjadikan semangat Harlah ke-100 NU sebagai pemacu penguatan persatuan nasional dan karakter bangsa.
“Semangat satu abad NU harus kita jadikan energi kolektif untuk membangun Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat,” pungkasnya.{}



