Jelang Lebaran, Harga Beras di Jatim Naik, Khusnul Khuluk DPRD Jatim Minta Pengawasan Ketat

Menjelang Hari Raya Idulfitri, harga beras di Jawa Timur terpantau mengalami kenaikan. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena beras merupakan kebutuhan pokok utama masyarakat, terutama saat permintaan meningkat selama Ramadan hingga Lebaran.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur per 12 Maret 2026, harga rata-rata beras medium di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur telah mencapai Rp12.905 per kilogram.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Khusnul Khuluk, meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk memperketat pengawasan harga di pasar agar tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

“Informasi dari Dinas Pertanian, sebenarnya stok beras di Jawa Timur masih aman. Karena itu yang perlu diperkuat adalah pengawasan harga di pasar agar tidak melebihi HET,” ujar legislator PKS itu.

Ia menilai instansi terkait seperti dinas perdagangan dan perindustrian perlu melakukan pemantauan langsung di pasar-pasar untuk memastikan harga tetap terkendali.

Kenaikan harga beras pada awal tahun ini dipengaruhi beberapa faktor. Selain meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan, produksi beras juga diproyeksikan mengalami penurunan pada periode Februari hingga April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, cuaca yang tidak menentu juga berdampak pada produktivitas pertanian di sejumlah wilayah.

Meski demikian, secara umum sektor pertanian di Jawa Timur pada 2025 menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat luas panen padi mencapai 1,84 juta hektare, meningkat sekitar 13,88 persen dibandingkan tahun 2024.

Peningkatan luas panen tersebut turut mendorong produksi padi yang mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2025, naik sekitar 12,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Khusnul mengingatkan agar kenaikan harga bahan pokok, khususnya beras, tidak semakin membebani masyarakat menjelang Lebaran, ketika kebutuhan rumah tangga biasanya meningkat.

“Jangan sampai masyarakat terbebani menjelang Lebaran. Kasihan masyarakat karena hampir semua komoditas bahan pokok mengalami kenaikan,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa di sisi petani terdapat sejumlah kendala produksi di beberapa daerah. Beberapa wilayah dilaporkan mengalami gagal panen akibat cuaca ekstrem seperti hujan dan banjir, serta serangan hama.

“Di beberapa daerah ada yang gagal panen karena hujan, banjir, dan berbagai macam hama. Bahkan di Jember misalnya, serangan tikus cukup merajalela,” jelasnya.

Karena itu, Khusnul berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pengendalian harga di pasar, tetapi juga memberikan perhatian pada kondisi petani agar produksi pangan tetap terjaga dan stabilitas harga bisa dipertahankan.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top