Lilik DPRD Jatim Apresiasi Anggaran Rp5 Juta per RW untuk Gen Z Surabaya: Investasi Lahirnya Wirausaha Muda

Rencana Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran Rp5 juta per bulan untuk setiap RW bagi kegiatan produktif Generasi Z (Gen Z) mendapat apresiasi dari DPRD Jawa Timur. Program tersebut dinilai berpotensi menjadi investasi penting untuk mendorong lahirnya wirausaha muda di tingkat kampung.

Anggota DPRD Jatim dari daerah pemilihan Kota Surabaya, Lilik Hendarwati, mengatakan anggaran tersebut akan memiliki dampak besar apabila benar-benar diarahkan sebagai modal usaha produktif, bukan sekadar membiayai kegiatan seremonial.

“Jika benar diarahkan menjadi modal usaha produktif, ini adalah investasi yang baik bagi lahirnya wirausaha muda, bukan sekadar kegiatan seremonial,” kata Ketua Fraksi PKS Jatim itu.

Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim itu berharap program tersebut dapat berjalan secara adil, transparan, dan merata di seluruh RW di Kota Surabaya. Menurutnya, jangan sampai hanya RW yang sudah memiliki kapasitas atau akses informasi lebih baik yang mampu menikmati manfaat program.

“Jangan sampai hanya RW tertentu yang menikmati manfaat karena lebih siap atau lebih dekat dengan akses informasi,” tegasnya.

Karena itu, Lilik mendorong adanya pendampingan yang setara bagi setiap RW. Pendampingan diperlukan agar pemuda tidak hanya mendapatkan anggaran, tetapi juga memiliki kemampuan menyusun proposal, menentukan jenis usaha, mengelola modal, hingga mengembangkan usahanya.

“Setiap RW harus memperoleh pendampingan yang sama dalam menyusun proposal dan mengembangkan usahanya,” ujarnya.

Selain pendampingan, Lilik mengusulkan agar praktik baik dari RW yang berhasil mengembangkan usaha Gen Z dipublikasikan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya.

Menurutnya, keberhasilan satu RW dapat menjadi model yang ditiru dan dikembangkan oleh Karang Taruna maupun komunitas pemuda di RW lain.

“RW yang berhasil membangun usaha Gen Z perlu dipublikasikan agar Karang Taruna RW lain bisa belajar dan meniru model keberhasilannya,” jelas Lilik.

Ia juga meminta evaluasi program dilakukan berdasarkan hasil, bukan sekadar melihat besarnya anggaran yang terserap. Indikator keberhasilan harus lebih konkret, seperti jumlah usaha yang lahir, jumlah pemuda yang memperoleh penghasilan, pertumbuhan omzet, serta keberlanjutan usaha yang dibangun.

“Ukur berapa usaha yang lahir, berapa pemuda memperoleh penghasilan, bukan hanya berapa anggaran yang terserap,” katanya.

Lilik berharap program Rp5 juta per bulan per RW tersebut benar-benar membuka kesempatan yang setara bagi anak muda Surabaya untuk belajar berusaha, menciptakan penghasilan, dan ikut menggerakkan perekonomian dari lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya berharap program ini akan betul-betul menghadirkan kesempatan yang setara bagi anak muda Surabaya,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top