Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, mengajak masyarakat menjadikan peringatan Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap 29 Juni sebagai momentum memperkuat ketahanan keluarga, khususnya dengan meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan anak.
Menurutnya, fenomena fatherless atau minimnya kehadiran sosok ayah dalam tumbuh kembang anak perlu mendapat perhatian serius karena dapat berdampak pada kualitas generasi masa depan.
“Hari Keluarga Nasional menjadi momentum penting untuk mengingatkan kita bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap anak. Di tengah berbagai tantangan zaman, kita perlu memberi perhatian serius terhadap fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika sosok ayah tidak hadir secara optimal dalam proses tumbuh kembang anak, baik karena faktor pekerjaan, perceraian, maupun kurangnya keterlibatan dalam pengasuhan,” ujar Lilik.
Menurut anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil Surabaya tersebut, kehadiran ayah tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Lebih dari itu, ayah memiliki peran penting dalam menghadirkan kasih sayang, keteladanan, perlindungan, serta pendampingan bagi anak-anaknya.
“Kehadiran ayah bukan hanya soal memberikan nafkah, tetapi juga menghadirkan kasih sayang, keteladanan, perlindungan, dan pendampingan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter, kesehatan mental, kepercayaan diri, hingga keberhasilan pendidikan anak di masa depan,” katanya.
Karena itu, Lilik mengajak seluruh keluarga di Jawa Timur untuk menjadikan kebersamaan dalam keluarga sebagai prioritas di tengah kesibukan masing-masing.
“Para ayah perlu meluangkan waktu untuk mendengar, membersamai, dan menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Kehangatan keluarga hari ini adalah investasi bagi kualitas generasi bangsa di masa depan,” tuturnya.
Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim itu juga mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan keluarga melalui program pendidikan keluarga, pendampingan parenting, perlindungan anak, serta penguatan peran ayah dalam pengasuhan.
Meski demikian, menurutnya tantangan yang dihadapi saat ini menuntut langkah yang lebih cepat dan lebih masif agar dampak negatif fenomena fatherless tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih besar.
“Kita perlu memperkuat sinergi antara keluarga, pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya,” ujarnya.
Lilik menegaskan bahwa membangun generasi unggul tidak cukup hanya mengandalkan kualitas pendidikan di sekolah. Fondasi utamanya tetap berada di dalam keluarga.
“Membangun generasi unggul tidak cukup hanya dengan sekolah yang baik, tetapi juga membutuhkan keluarga yang kuat. Mari kita hadir untuk anak-anak kita, karena anak yang tumbuh dengan cinta, perhatian, dan keteladanan orang tuanya akan menjadi generasi yang lebih tangguh, berakhlak, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkasnya.{}



