SPMB 2026, Puguh DPRD Jatim Minta Siswa Berprestasi dari Keluarga Miskin Harus Diprioritaskan

Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Jawa Timur kembali menjadi sorotan. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap siswa dari keluarga kurang mampu, khususnya yang memiliki prestasi dan potensi akademik.

Menurutnya, jalur afirmasi dalam SPMB harus dimaksimalkan agar benar-benar memberikan akses pendidikan yang adil bagi siswa dari kelompok ekonomi terbawah.

“Anak-anak dari keluarga desil 1 sampai desil 4 yang memiliki prestasi harus diprioritaskan. Mereka harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan yang berkualitas,” ujar Sekretaris Fraksi PKS Jatim ini.

Puguh mengungkapkan, jumlah lulusan SMP sederajat di Jawa Timur pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 618 ribu siswa. Namun, daya tampung SMA dan SMK negeri yang dikelola Pemprov Jatim hanya sekitar 39 persen.

“Kondisi ini membuat sekitar 60 persen lulusan tidak tertampung di sekolah negeri. Akibatnya, persaingan menjadi sangat ketat,” jelasnya.

Ia menilai, berbagai skema dalam SPMB seperti jalur domisili, prestasi, afirmasi, hingga skema khusus seperti golden ticket sudah cukup variatif. Namun, tanpa sosialisasi yang masif dan sistem yang kuat, potensi masalah di lapangan tetap besar.

“Durasi pendaftaran yang singkat dan jeda antar tahap yang terbatas membuat masyarakat harus benar-benar memahami mekanismenya. Ini yang perlu diantisipasi sejak awal,” katanya.

Selain itu, Puguh juga mendorong Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk memperkuat sistem digital serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar pelaksanaan SPMB berjalan lancar dan transparan.

Ia menegaskan, proses SPMB harus mengedepankan prinsip keadilan dan tidak boleh mengabaikan kelompok masyarakat yang membutuhkan.

“SPMB ini harus fair dan berkualitas. Jangan sampai anak-anak yang punya potensi justru terhambat hanya karena keterbatasan ekonomi,” tegasnya.

Lebih jauh, Puguh mengingatkan bahwa SPMB merupakan pintu awal dalam membentuk kualitas generasi muda Jawa Timur. Karena itu, selain proses seleksi yang adil, peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh juga harus menjadi prioritas.

“Kita ingin pendidikan di Jawa Timur terus meningkat kualitasnya, melahirkan generasi yang berintegritas, berkarakter kuat, dan memiliki daya saing nasional hingga global,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top