Uji Coba MBG Sistem Prasmanan di Malang, Puguh DPRD Jatim: Langkah Perbaikan dari Berbagai Masalah

Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan untuk pertama kalinya digelar di Kota Malang. Skema baru ini dinilai sebagai langkah perbaikan setelah berbagai dinamika dan kritik terhadap pelaksanaan program sebelumnya.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, sistem prasmanan bisa menjadi solusi untuk memperbaiki kualitas penyajian makanan bagi siswa.

“Pelaksanaan MBG dengan metode prasmanan ini patut diapresiasi. Ini salah satu upaya perbaikan dari implementasi program yang selama ini berjalan,” ujar Sekretaris Fraksi PKS Jawa Timur ini.

Puguh menegaskan, program MBG sejatinya merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam menekan angka stunting pada anak.

“Tujuan awalnya jelas, agar anak-anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Ini bagian dari visi besar yang harus terus kita jaga,” katanya.

Namun, dalam praktik di lapangan, ia mengakui masih banyak tantangan yang muncul sehingga tujuan tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Menurut Puguh, pelaksanaan MBG sebelumnya diwarnai berbagai persoalan, mulai dari kualitas menu hingga kasus-kasus yang sempat viral di media sosial.

“Dalam implementasinya memang banyak dinamika. Ada ketidaksesuaian antara konsep awal dengan pelaksanaan di lapangan. Bahkan sempat muncul kasus seperti keracunan dan keluhan masyarakat terhadap menu yang disajikan,” jelasnya.

Ia menilai kritik dan masukan dari masyarakat tersebut harus menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan program ke depan.

Dengan sistem prasmanan, makanan disajikan lebih segar dan langsung dikonsumsi di lokasi. Hal ini dinilai mampu meminimalisir risiko kualitas makanan menurun selama distribusi.

“Dengan prasmanan, penyajian menjadi lebih fresh dan rantai distribusi lebih pendek. Ini menjawab banyak keluhan yang sebelumnya muncul,” ungkapnya.

Puguh juga mendorong agar skema ini tidak hanya diuji coba di Kota Malang, tetapi bisa diperluas ke daerah-daerah yang membutuhkan perhatian lebih dalam pemenuhan gizi anak.

“Lebih bagus lagi jika diterapkan di daerah-daerah yang menjadi prioritas penanganan gizi. Harapannya, tujuan utama MBG benar-benar bisa tercapai,” pungkasnya.

Dengan inovasi ini, ia berharap program MBG dapat berjalan lebih optimal dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan serta kualitas generasi muda di Jawa Timur.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top