Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati, menggelar kegiatan Solosemiran (Sosialisasi, Lokakarya, dan Seminar) pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus forum diskusi bersama tokoh masyarakat, ustaz, dan Komunitas Relindo Indonesia (Relindo Jatim).
Dalam sambutannya, Lilik menjelaskan bahwa Solosemiran merupakan salah satu agenda resmi anggota DPRD Jawa Timur untuk memperkuat komunikasi antara wakil rakyat dengan masyarakat di daerah pemilihannya.
“Solosemiran ini sebenarnya singkatan dari sosialisasi, lokakarya, dan seminar. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anggota dewan untuk berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat di dapil,” ujar Ketua Fraksi PKS Jatim itu.
Acara yang digelar dalam suasana Ramadan tersebut juga dirangkai dengan silaturahmi dan buka puasa bersama. Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk para ustaz dan perwakilan komunitas yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Dalam kesempatan itu, Lilik menyampaikan materi bertema “Religiusitas dan Nasionalisme sebagai Pilar Penguatan Demokrasi.”
Ia menekankan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kecintaan terhadap bangsa menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia.
Menurutnya, religiusitas memiliki peran penting dalam membentuk integritas para pemimpin, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif.
“Religiusitas melahirkan kejujuran bagi seorang pemimpin. Kita tentu menginginkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan konsisten antara ucapan dan tindakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, nilai religius juga melahirkan sikap amanah dalam menjalankan jabatan. Bagi pejabat publik, amanah berarti memperjuangkan kepentingan masyarakat, termasuk di sektor kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Lilik mencontohkan salah satu fokus yang selama ini ia dorong adalah pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di Surabaya.
“Memperjuangkan UMKM memang tidak selalu populer, tetapi itu penting karena banyak masyarakat kita yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut,” ujarnya.
Selain religiusitas, Lilik juga menegaskan pentingnya nilai nasionalisme dalam menjaga persatuan bangsa.

Menurutnya, Indonesia dibangun atas dasar kesepakatan bersama di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
“Nasionalisme menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Dengan begitu, semua kebijakan dan program pembangunan harus bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat,” katanya.
Ia juga menilai nasionalisme dapat menjadi penyejuk dalam dinamika politik. Perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun harus tetap diarahkan untuk tujuan bersama membangun bangsa.
“Bangsa ini tidak bisa dibangun oleh satu kelompok saja. Kita harus bekerja bersama-sama dengan semangat persatuan,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Lilik menegaskan bahwa demokrasi yang kuat hanya dapat terwujud jika nilai religiusitas dan nasionalisme berjalan beriringan. Menurutnya, tanpa dua nilai tersebut, demokrasi berisiko kehilangan arah dan moral.
“Religiusitas menjaga hati kita agar tetap lurus, sedangkan nasionalisme menjaga langkah kita agar tetap untuk negeri. Jika dua nilai ini hidup dalam diri kita, maka demokrasi Indonesia akan tetap kokoh dan bermartabat,” pungkasnya.
Melalui kegiatan Solosemiran tersebut, Lilik berharap masyarakat semakin aktif berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi sekaligus menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.{}



