8,9 Juta Anak Usia Sekolah di Jawa Timur, Puguh DPRD Jatim Dorong Pemerataan dan Kualitas Pendidikan

Jumlah anak usia sekolah di Jawa Timur mencapai sekitar 8,9 juta jiwa. Angka besar ini menjadi potensi sekaligus tantangan serius bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memastikan pendidikan yang merata dan berkualitas di seluruh wilayah.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKS, Puguh Wiji Pamungkas, saat mengomentari kondisi dan arah pembangunan pendidikan di Jawa Timur.

Menurutnya, dengan populasi usia sekolah terbesar kedua di Indonesia, Jawa Timur harus memiliki kebijakan pendidikan yang terencana, adil, dan berorientasi pada kualitas.

“Dengan jumlah anak usia sekolah yang sangat besar, Jawa Timur memiliki peluang luar biasa untuk melahirkan generasi unggul. Namun tantangan pemerataan akses dan kualitas pendidikan harus dijawab dengan kebijakan yang tepat,” ujar Anggota Komisi E DPRD Jatim ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur 2025, jumlah anak usia sekolah tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA/SMK. Rinciannya, sekitar 1,2 juta anak di jenjang PAUD, 4,1 juta siswa SD/MI, 2,1 juta siswa SMP/MTs, serta 1,5 juta siswa SMA/SMK/MA.

Puguh menyoroti masih adanya kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Menurutnya, daerah-daerah perifer di Jawa Timur masih menghadapi keterbatasan infrastruktur sekolah, distribusi tenaga pendidik, hingga akses teknologi pembelajaran.

“Pemerataan pendidikan harus menjadi prioritas utama. Intervensi kebijakan dan anggaran Pemprov Jawa Timur perlu difokuskan pada wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal,” tegasnya.

Selain pemerataan, Puguh juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan. Berdasarkan data BPS, Jawa Timur memiliki sekitar 590 ribu guru yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan. Namun, persoalan kompetensi dan kesejahteraan guru masih kerap menjadi keluhan.

“Peningkatan kompetensi guru harus dibarengi dengan perhatian terhadap kesejahteraan. Guru idealnya mendapatkan penghasilan layak agar bisa fokus pada proses belajar mengajar,” katanya.

Dalam menghadapi era digital, Puguh menilai integrasi teknologi ke dalam kurikulum menjadi sebuah keniscayaan. Anak-anak usia sekolah saat ini merupakan generasi native digital yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.

“Kurikulum harus adaptif dan menekankan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Pendidikan tidak boleh lagi hanya berorientasi pada hafalan,” jelasnya.

Tak kalah penting, Puguh juga menyoroti penguatan pendidikan vokasi dan keterhubungan dengan dunia industri. Ia mengingatkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur masih banyak disumbang oleh lulusan SMA/SMK.

“Link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri harus diperkuat agar lulusan siap kerja dan mampu bersaing,” ujarnya.

Di sisi lain, Puguh menegaskan bahwa pendidikan di Jawa Timur harus tetap berakar pada nilai-nilai karakter dan budaya lokal, seperti gotong royong, etos kerja, dan toleransi.

“Pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Inilah bekal penting bagi generasi muda Jawa Timur dalam menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top