Peringatan Hari Ibu menjadi momentum refleksi tentang peran perempuan, khususnya ibu, dalam menjaga keseimbangan antara keluarga dan pengabdian sosial. Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menuturkan bahwa kesehatan fisik dan mental merupakan fondasi utama bagi seorang ibu untuk bisa memberi manfaat, baik bagi keluarga maupun masyarakat luas.
Menurut Lilik, sehat bukan sekadar kondisi, melainkan sebuah kewajiban. Seorang ibu yang sehat secara fisik dan mental akan memancarkan aura kebahagiaan, yang pada akhirnya berpengaruh besar pada suasana rumah dan tumbuh kembang anak-anak.
Ia menegaskan bahwa kebahagiaan seorang ibu kerap lahir dari kebahagiaan anak-anaknya. Ketika anak-anak tersenyum dan bersemangat, di situlah seorang ibu merasakan makna bahagia yang sesungguhnya.
Namun, Lilik tidak menampik bahwa rasa lelah dan capek adalah bagian dari keseharian seorang ibu, terlebih bagi mereka yang juga mengemban amanah di ruang publik. Ia menyebut kelelahan sebagai hal yang manusiawi.
Yang terpenting, kata dia, adalah bagaimana seorang ibu memaknai lelah tersebut. Jika kelelahan hadir dalam rangka menjalankan amanah dan memberi kontribusi untuk masyarakat, maka rasa capek itu justru berubah menjadi sumber kebahagiaan karena masih diberi kesempatan untuk berkiprah.
Dalam perjalanannya sebagai wakil rakyat, Lilik mengakui bahwa keluarga adalah sistem pendukung terbesar. Dukungan suami dan anak-anak menjadi energi penting yang membuatnya tetap kuat menjalani aktivitas di luar rumah.
Sejak awal, anak-anaknya dibiasakan untuk mandiri dan bertanggung jawab, memahami bahwa sang ibu tidak hanya milik keluarga, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat.
Ia bercerita, komunikasi menjadi kunci menjaga keharmonisan. Di tengah keterbatasan waktu, Lilik berusaha memaksimalkan setiap kesempatan bersama keluarga, mulai dari makan bersama hingga berdiskusi ringan untuk mendengarkan cerita dan aspirasi anak-anak.
Bahkan, grup keluarga dan komunikasi jarak jauh menjadi sarana menjaga kedekatan ketika aktivitas publik menuntut kehadiran di luar rumah.
Lilik juga menekankan pentingnya peran pasangan dalam mendukung peran ganda seorang ibu. Sejak awal pernikahan, ia dan suami berkomitmen untuk saling memahami sebagai sesama aktivis. Di rumah, ia tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu sepenuhnya, sementara peran sebagai anggota dewan dijalankan ketika berada di ruang publik.
Dukungan dan diskusi bersama suami menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.
Melalui kisahnya di Hari Ibu, Lilik Hendarwati ingin menyampaikan bahwa menjadi ibu bukan hanya tentang peran domestik, tetapi juga tentang kontribusi yang lebih luas. Dengan kesehatan, dukungan keluarga, dan manajemen waktu yang baik, seorang ibu dapat tetap hadir di rumah sekaligus berkiprah untuk masyarakat.{}



