Belajar dari Tragedi Sumatera, Agus Cah DPRD Jatim Ingatkan Jatim Waspadai Alih Fungsi Hutan

Tragedi bencana yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh harus menjadi pelajaran bersama, Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil 9, Agus Cahyono, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap alih fungsi hutan yang berpotensi memicu bencana serupa di wilayah Jawa Timur.

Dapil 9 sendiri meliputi Kabupaten Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Magetan, dan Ngawi, lima daerah yang seluruhnya bersinggungan dengan kawasan pegunungan dan lereng-lereng rawan longsor.

Agus menyebut, bencana dahsyat di Sumatera yang menelan hampir seribu korban jiwa dan meninggalkan kerugian besar seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah di Jatim. Menurutnya, berbagai kajian telah menunjukkan bahwa salah satu faktor pemicu bencana itu adalah alih fungsi hutan yang tidak terkelola dengan baik.

“Ini harus jadi pelajaran berharga. Daerah-daerah di Dapil saya semuanya berada di kaki gunung. Kalau tidak diantisipasi, potensi bencana serupa bisa terjadi,” tegas legislator PKS itu.

Agus menilai pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten harus hadir dengan langkah-langkah mitigasi nyata. Ia menekankan pentingnya regulasi yang lebih ketat dan pendampingan kepada masyarakat dalam pemanfaatan lahan hutan, terutama karena banyak warga yang mengalihkan hutan tanaman jangka panjang menjadi tanaman polowijo yang lebih cepat menghasilkan.

“Kita memahami kebutuhan ekonomi masyarakat. Tapi alih fungsi hutan tidak boleh dibiarkan tanpa aturan. Tanah dengan kemiringan tertentu harus ada batasannya, tumpangsari pun harus diarahkan supaya tetap aman,” jelasnya.

Ia mencontohkan, beberapa waktu terakhir Trenggalek dan Ponorogo juga dilanda banjir saat musim hujan meski tidak sebesar bencana di Sumatera. Menurut Agus, ini menjadi tanda bahwa kondisi bentang alam Jatim pun rentan bila tidak dijaga.

Agus berharap pemerintah segera memperkuat regulasi, memperbanyak edukasi, dan menambah pendampingan kepada masyarakat pegunungan agar keseimbangan antara ekonomi dan keselamatan tetap terjaga.

“Semoga bencana ini menjadi hikmah. Hutan boleh dimanfaatkan, tapi harus bijak. Jangan sampai upaya meningkatkan ekonomi justru menimbulkan bencana yang lebih besar,” pungkasnya.{}

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top